PELETAKAN DASAR-DASAR PERADABAN ISLAM PADA MASA ROSULULLAH SAW
A. Latar Belakang Pembinaaan Peradaban Islam
1. Faktor Historis
Bangsa Arab merupakan keturunan Nabi Ibrahim a.s. oleh karena itu peradaban warisan nenek moyangnya, Nabi Ibrahim a.s. yang merupakan peletak dasar dan pembina peradaban Islam. Diantara unsur peradaban warisan Ibrahim yang masih tampak ada dalam sistem dan lingkungan budaya bangsa Arab adalah ka’bah. Ka’bah sebagai pusat peradaban Islam masih tetap ada dan terpelihara dalam lingkungan budaya Arab, tetapi ciri-ciri keislamannya mulai pudar dan bahkan disertai penyimpangan dari kemurniannya. Walaupun demikian, kepercayaan orang Arab masih sama yaitu “Allah pencipta alam semesta”.
2. Faktor Geografis
Letak jazirah Arab yang sangat strategis dan terbuka ke segala penjuru dunia baik melalui jalur daratan maupun lautan mendukung peradaban Islam yang dibina oleh Nabi Muhammad Saw. untuk memungkinkan penyebarannya dengan cepat keseluruh bangsa di sekelilingnya.
3. Faktor Politik
Dunia Arab pada masa itu secara politis menjadi rebutan antara tiga kekuatan negara besar yang ada di sekitarnya yaitu Romawi, Persi, dan Abbesinia. Ketiganya pernah menguasai dunia Arab sehingga kehidupan politik di Arab banyak dipengaruhi oleh ketiganya. Kondisi yang demikian membuat bangsa Arab tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan politik yang baik. Kekuasaan politik yang fanatik pada sukunya sendiri membuat sering terjadinya konflik antar suku tersebut.
4. Faktor Kehidupan Sosial Budaya
Kota Makkah merupakan pusat kehidupan dan perekonomian sosial budaya yang membuat Makkah menjadi kota yang terbuka dan strategis dalam mempercepat perkembangan dan kebuidayaan Islam di Arab secara merata. Selain itu, bangsa Arab juga mempunyai keahlian dalam bidang sastra dan syair. Situasi yang demikian sangat mendukung dalam pertumbuhan peradaban Islam yang bersumber pada al-Qur’an.
5. Faktor Kehidupan Keagamaan
Dalam bidang keagamaan bangsa Arab telah mewarisi ajaran tauhid Ibrahim a.s dengan ka’bah sebagai pusat kehidupan keagamaan. Proses Islamisasi bangsa Arab merupakan proses asimilasi Islam dengan peradaban bangsa Arab sebab keduanya memiliki fungsi, Nabi Muhammad Saw. tidak lain hanyalah untuk meluruskan kembali sekaligus untuk menyempurnakan ajaran agama yang telah ada.[1]
B. Peradaban Islam di Makkah
Sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW. Tidak hanya bangsa arab tetapi seluruh dunia terjerumus kedalam perbuatan yang menyimpang ketuhanan, tahayyul dan ketidakadilan dalam kehidupan sosial. Kekacauan tersebut merupakan penyebab kerusuhan dan konflik yang sering terjadi di seluruh jazirah Arab. Kedatangan Nabi Muhammad SAW adalah untuk membersihkan Tauhid dari unsur-unsur kemusyrikan. Selain itu juga untuk mengatasi kondisi politik bangsa Arab yang kacau. Sebelum Islam datang, masyarakat Arab terbiasa memulai pekerjaan dengan mengatasnamakan berhala-berhala sesembahan mereka. Setelah Islam datang, Nabi Muhammad SAW mengajarkan mereka untuk memulai sengan menyebut Tuhan Yang Maha Esa, yaitu dengan basmalah. Selain itu masyarakat Arab juga terbiasa melantunkan syair-syair untuk para tuhan berhala dan nenek moyang mereka. Kedatangan Islam kemudian mengganti dengan membaca dan menghafal Al-Qur’an. Islamisasi periode Mekkah dilakukan dengan merombak unsur tradisi kebudayaan masyarakat mereka bahkan menyangkut urusan ketuhanan mereka dengan menyembah berhala yang dianggap sebagai sumber penghidupan mereka dan menggantinya dengan unsur islam sehingga terbentuk budaya yang benar-benar islami.
Keterlibatan Nabi Muhammad SAW. dalam kehidupan bangsanya, yang dipenuhi dengan praktik agama watsaniyah, dengan pontensi fitrah yang dimilikinya, Muhammad mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan budayanya. Bahkan beliau menemukan warisan ajaran Ibrahim yang telah tenggelam dan terpendam dalam budaya watsaniyah dari bangsanya.[2]
Nabi Muhammad SAW adalah sosialis yang agung, beliau menyadari masih banyak masyarakat yang menjalankan riba. Beliau melarang perbuatan ini dan memperkenalkan sistem zakat, sedekah, dan fitrah dalam masyarakat. Beliau juga memusatkan lada perdagangan dan pertanian sehingga dapat memajukan perekonomian bangsa. Mengenai pembaharuan yang diprakarsai Nabi Muhammad SAW, mengatasi masalah ketidak adilan sosial merupakan hal yang penting dan paling luas akibatnya. Seperti penghapusan perbudakan, perbaikan nasib kaum wanita, dan kesenjangan sosial lainnya.
C. Pembinaan Peradaban Islam di Madinah
1. Membangun Masyarakat Islam dan Pembentukan Negara Madinah
Dengan hijrahnya Nabi ke Yatsrib yang kemudian berganti nama Madinah al-Munawwarah atau disebut dengan Madinah (Kota yang bercahaya), Nabi segera meletakkan dasar-dasar masyarakat Islam. Nabi resmi menjadi pemimpin penduduk kota ini (pemimpin negara) sekaligus pemimpin agama Islam. Dasar-dasar kehidupan masyarakat Islam atau yang sering disebut Konstitusi Madinah adalah:
a. Mendirikan Masjid untuk tempat beribadah juga untuk tempat berkumpul dan bertemu. Masjid berperan besar dalam menyatukan umat Muslimin dari berbagai suku dan mempersatukan jiwa mereka serta tempat bermusyawarah dalam merundingkan persoalan yang dihadapi. Pada masa Nabi, masjid dijadikan sebagai pusat pemerintahan.
b. Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim)
Persaudaraan yang dilakukan Rasulullah berdasarkan agama, bukan berdasarkan pertalian darah. Mempersatukan umat yaitu mempersaudarakan kaum Anshar dan kaum Muhajirin.
c. Perjanjian persahabatan untuk saling membantu antara kaum muslimin dengan kaum bukan muslimin.
d. Meletakkan landasan politik, ekonomi dan kemasyarakatan bagi negeri Madinah yang baru terbentuk. Dasar berpolitik antara lain prinsip keadilan yang harus dijalankan tanpa pandang bulu.
2. Peperangan dalam Islam
Banyak peperangan yang terjadi sebagai upayan kaum muslimin dalam mempertahankan diri dari serangan musuh. Untuk menghadapi kemungkinan serangan musuh, Nabi membuat siasat dan membentuk pasukan perang. Umat Islam diijinkan perang karena dua alasan:
- Untuk melindungi diri dan melindungi hak milik
- Untuk menjaga keselamatan dalam penyebaran kepercayaan dan mempertahankan diri dari penghalang.[3]
Beberapa perang yang pernah terjadi dalam rangka menentukan masa depan Islam antara lain:
a. Perang Badar
Perang Badar al-Kubra terjadi pada 8 Ramadhan 2 H (624 M), di lembah Badar, antara kaum Muslimin melawan kaum Quraisy. Sebab kaum Quraisy ingin melenyapkan kaum muslimin. Kaum Quraisy 900-1000 orang, dipimpin oleh Utbah bin Rabi’ah, Al-Walid, dan Syaibah. Pasukan Islam 305 orang dipimpin oleh Ubaidah bin Haris, Hamzah, dan Ali bin Abi Thalib. Pertempuran ini dimenangkan oleh kaum Muslimin.
b. Perang Uhud
Perang Uhud terjadi pada Sya’ban 3 H dikaki gunung uhud yang terletak di utara Madinah. Sebab kaum Quraisy ingin balas dendam dalam perang Badar. Pasukan Quraisy dipimpin Abu Sufyan dan Khalid bin Walid. Pada awalnya pasukan Islam menang, tetapi karena godaan harta perang, pasukan Islam menjadi lengah, pasukan Quraisy kemudian menyerang dan kaum Muslimin kalah.
c. Perang Khandaq
Perang Khandaq terjadi pada Syawal 5 H, di Madinah. Sekitar Madinah digali parit (Khandaq), ide Salman Al-Farisi untuk mempertahankan dari serangan musuh. Perang ini dimenangkan oleh kaum Muslimin.
d. Perjanjian Hudaibiyah
Perjanjian Hudaibiyah terjadi pada tahun 628 M/ 6 H, perjanjian dengan penduduk Makkah. Januari 630 M (8 H) Umat Islam berhasil menaklukkan kota Makkah/ Fathu Makkah.
e. Perang Khaibar
Perang Khaibar terjadi pada tahun 7 H, di Khaibar, antara kaum Muslimin melawan orang Yahudi. Nabi Muhammad membawa 1.600 dipimpin Ali bin Abi Thalib. Setelah mengepung selama 6 hari, pasukan Islam menang.
f. Perang Mu’tah
Perang Mu’tah terjadi pada tahun 8 H, didesa Mu’tah. Adanya perang ini disebabkan kekejaman Raja Ghassan yang membunuh utusan yang dikirim Nabi dalam rangka dakwah Islam. Pasukan 3000 orang dipimpin Zaid bin Haritsah. Pasukan Ghassan 200.000 orang. Khalid bin Walid mengambil alih komando dan menarik pasukannya kembali menuju Madinah.
g. Perang Hunain
Perang Hunain terjadi pada tahun 8 H, dilembah Hunain. Disebabkan karena masih adanya dua suku Arab yang menentang yaitu Bani Tsaqif di Thaif dan Bani Hawazin, meskipun Makkah sudah ditaklukkan. Mereka ingin menuntut bela atas diruntuhkannya berhala-berhala mereka oleh Nabi. 12.000 orang pasukan Islam dipimpin Nabi sendiri. Dengan ditaklukkannya Bani Hawazin dan Bani Tsaqif, berarti seluruh jazirah Arab berada dibawah pimpinan Nabi Muhammad SAW.
h. Perang Tabuk
Perang Tabuk terjadi pada tahun 9 H, di daerah Tabuk. Disebabkan karena Heraklius bergabung dengan bani Ghassan dan Bani Lachmides menyusun pasukan besar untuk menghadapi Islam. Nabi menyusun pasukan Islam dalam jumlah besar pula. Tentara Romawi akhirnya minder dan menarik diri ke daerahnya masing-masing. Nabi tidak melakukan pengejaran tetapi berkemah di daerah Tabuk. Beliau mengadakan perjanjian dengan penduduk setempat sehingga daerah tersebut menjadi daerah Islam. Perang Tabuk merupakan perang terakhir yang diikuti oleh Rasulullah SAW.
3. Wafatnya Rasulullah SAW.
Pada tahun 10 H (631 M) Rasulullah melakukan ibadah haji (haji wada’/perpisahan) turunlah wahyu yang terakhir yaitu: Surah Al-Maidah ayat 3. Senin, 12 Rabi’ul Awal 11 H/ 8 Juni 632 M, Rasulullah SAW wafat di rumah istrinya, Aisyah (Madinah) dalam usia 63 tahun.[4]
[1] Susmihara, Sejarah Peradaban Islam, Penerbit Ombak, Yogyakarta. 2013, hal. 118-120.
[2] Susmihara, Sejarah Peradaban Islam, Penerbit Ombak, Yogyakarta. 2013, hal. 120-121.
[3] Khoiriyah, Reorientasi Wawasan Sejarah Islam dari Arab sebelum Islam hingga Dinasti-dinasti Islam, Yogyakarta: Teras, 2012,hlm.39-41.
[4] Khoiriyah, Reorientasi Wawasan Sejarah Islam dari Arab sebelum Islam hingga Dinasti-dinasti Islam, Yogyakarta: Teras, 2012,hlm.52-54.
Tidak ada komentar: